Sunday, 13 April 2014

Ekspedisi 5 Provinsi, 4 Daratan & 3 Lautan (Bagian III)

Sudah Baca cerita sebelumnya? kalau belum baca dulu cerita Ekspedisi 5 Provinsi, 4 Daratan & 3 Lautan Bagian I Bagian II yaa...


             Hooaaaemmh.. kini aku terbangun dari tidur singkat karena ramainya suasana pelabuhan lagi. Pelabuhan padang bai, merupakan pelabuhan yang terletak di sebelah timur pulau Bali. Dari pelabuhan ini, bus akan menyebrangi lautan dengan menggunakan fery lagi. Namun waktu tunggu di pelabuhan kali ini sangat lama dan membosankan, karena belum ada fery yang berlabuh di dermaga. Sampailah pada saatnya, bus memasuki fery dengan mengantri bersama bus-bus lainnya, truk barang, mobil pribadi, sepeda motor, serta pejalan kaki.
Kring... kring... suara bel di kapal tanda dimulainya perjalanan. Aku segera mencari tempat duduk yang nyaman, jauh dari terpaan angin yang kencang malam itu. Di kapal fery biasanya disediakan sebuah ruangan yang berisi kursi-kursi untuk semua penumpang. Diruangan itu terdapat sebuah kantin yang menjual makanan dan mushola beserta toilet wanita dan laki-laki. Tak kurang pula beberapa layar LCD dipajang didepan ruangan, yang biasanya memutar video karoekean lagu dangdut yang sangat membosankan menurutku. Diruangan yang satu lagi yaitu tempat yang digunakan penumpang untuk tidur-tiduran atau berbaring. Ketika aku lewat didepan ruangan itu, sama seperti melihat korban bencana alam yang sedang mengungsi. Orang bergeletak disana-sini memenuhi ruangan itu.
Perjalanan dari pulau bali ini akan menempuh waktu selama 4-5 jam menuju pulau lombok, bisa juga sampai 6 jam kalau ombaknya besar. Pulau bali sebagai daratan kedua pada ekspedisi kali ini telah dilewati. Dan kini aku sedang mengarungi lautan kedua, selat lombok. Selat lombok adalah selat yang memisahkan pulau Bali dan pulau lombok, dua pulau yang memiliki budaya yang agak mirip. Budaya di lombok masih mencirikan budaya Bali, karena dulu ada kerajaan di pulau bali yang sempat menaklukan pulau lombok.
Aku punya cerita yang unik ketika menaiki fery menyebrangi selat lombok juga saat balik lagi ke Jakarta setelah liburan. Saat itu siang hari dan panas matahari sangat terik sekali. Aku bersama beberapa penumpang naik kebagian paling atas kapal yang merupakan ruang yang lapang dan terbuka sebelum ruangan tempat nahkoda dan alat kemudi kapal. Kebetulan ada banyak turis mancanegara yang menumpang kapal itu juga. Beberapa jam setelah kapal fery berangkat, turis-turis itu mengambil alih ruang kami. Ruang terbuka yang lebih luas dari tempat lainnya. Jasad-jasad berRuh tergeletak kesana kemari di ruang yg lebarnya tak lebih dari 5 meter itu. Kamipun terpojok hingga akhirnya kami berpindah dan menempati ruang-ruang sempit di bagian sayap kapal yang terdiri dari 4 tingkatan itu. Apa pula yang ada dalam benak mereka? Hingga mereka bersedia menyerap sinar-sinar surya yang jatuh di atas dek kapal dengan kulit mereka. Seketika itu, berpindahlah orang-orang berpeci, bersorban, dan berkoko yang sebelumnya banyak dari mereka yang memenuhi ruang itu ke tempat lain. Tapi ternyata, masih ada yang bertahan disana. Sungguh mengagetkan, beberapa jam kemudian, aku melewati ruang itu. Dan melihat jasad-jasad berRuh tadi dengan pakaian yang lebih minim dari sebelumnya.
Ya ampun, tempat ini seketika menjadi pameran. Pameran tubuh oleh para bule-bule itu. Tapi yang lebih unik lagi, aku melihat seseorang wanita (bule) sedang berbaring atau berjemur dipinggiran kapal. Ada sebuah botol berisi cairan hijau di sebelahnya. Aku terkejut keheranan, yang ada disampingnya itu adalah sebotol sunlight yang biasa dipakai untuk mencuci piring, kini ia ambil dan mengoleskan isinya ke pergelangan tangan dan lengannya. Wow, apa yang dia lakukan? Apakah karena ada tulisan “sun” dari merk sunlight yang dikiranya itu adalah sunblock yaitu sejenis handbody untuk melindungi diri dari sinar matahari. Hahahah.. rasanya ingin tertawa saat itu, tapi akan terlihat aneh jika aku tertawa sendirian (-_-“).
Berjam-jam di kapal membuatku mengantuk. Saat pulau lombok terlihat samar-samar didepan, matahari sudah mulai tampak di ufuk timur. Rasa haru terbersit di dalam dada, manakala kampung halaman yang sudah hampir setahun kutinggalkan kini semakin dekat. Sebentar lagi kapal fery akan bersandar di pelabuhan lembar lombok. Kedatangan kami disambut oleh perahu-perahu kecil milik nelayan-nelayan yang sedang mencari peruntungan dari laut. Sungguh Allah swt. sangat menyayangi manusia dengan menebarkan rizki berupa dunia ini. Tinggal kita sendiri yang harus berusaha untuk mencari rizki itu. Apalagi laut Indonesia yang sangat kaya akan hasilnya, memiliki peluang untuk mensejahterakan para nelayan. Warna-warni keragaman biota laut, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Pelabuhan lembar letaknya agak tersembunyi diantara bukit-bukit dipinggir laut. Dibanding pelabuhan yang ada di Bali, pelabuhan ini lebih sederhana. Namun sangat penting bagi wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin berpetualang antara Lombok dan Bali. Suasana yang kudapatkan di pelabuhan saat itu mengingatkanku akan memori setahun yang lalu, ketika aku ditemani ibuku meninggalkan NTB untuk pergi merantau. Rasanya ingin menangis ketika kembali lagi ke bumi Sasambo ini. Suasana NTB yang khas terutama suku sasak mulai tercium ketika roda bus mulai keluar dari kapal dan melangkah meninggalkan gerbang pelabuhan.
NTB menjadi provinsi kelima sekaligus provinsi terakhir dalam ekspedisi kali ini. Sedikit bercerita tentang Nusa Tenggara Barat, bumi NTB di juluki dengan bumi Sasambo yaitu Sasak Samawa Mbojo. 3 suku besar yang mendiami wilayah NTB. NTB merupakan bagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Uniknya kepulauan ini yaitu mayoritas masyarakat NTB menganut agama islam, sedangkan Bali mayoritas menganut agama Hindu dan NTT mayoritas menganut agama Kristen Katholik. Padahal ketiga provinsi tersebut merupakan gugusan kepulauan Nusa Tenggara.
Bus yang kutumpangi akan mampir di kota Mataram, ibukota provinsi NTB. Disana penumpang dan awak bus makan siang dulu, sedangkan aku masih istiqomah untuk berpuasa. Setelah sebagian besar penumpang kenyang, buspun melaju lagi membelah pulau lombok. Pulau lombok adalah daratan ketiga dan tersisa satu daratan lagi untuk sampai kerumah tercinta.
Disepanjang jalan lombok, banyak kita temukan sawah-sawah serta lahan pertanian lainnya seperti tembakau dan jagung. Pemerintah NTB sendiri mengutamakan sektor pertanian selain sektor pariwisata untuk pembangunan, mengingat kondisi geografis NTB sendiri yang cocok untuk bertani. Disebelah utara kita dapat melihat gunung rinjani yang menjulang tinggi, kebanggaan masyarakat lombok. Meskipun mayoritas muslim, tak jarang kita temukan pura umat hindu. Umat hindu adalah agama terbesar kedua di NTB.
Waktu tempuh perjalanan di lombok sekitar 3 jam. Dari Lombok Barat, kota Mataram, melewati Lombok Tengah, dan yang paling timur yaitu Lombok Timur. Selanjutnya untuk menyebrangi laut lagi. Bus menuju suatu pelabuhan yaitu pelabuhan kayangan. Pelabuhan ini menghubungkan pulau lombok dengan pulau Sumbawa, salah satu pulau utama di NTB. Dengan menyebrangi selat alas selama 2 jam, bus bersama fery melaju meninggalkan pulau lombok, inilah lautan yang ketiga dan terakhir. Saat itu hari sudah senja dan aku bisa menikmati indahnya sunset dan menikmati menu berbuka diatas kapal sambil melamunkan diri. Rasanya saat itu adalah momen berbuka yang paling indah. 
...
Akhirnya aku bisa melihat lagi pulau tempat kelahiranku. Semua rasa bercampur aduk dalam jiwa ini. Sebuah pertanyaan terlintas dikepala, Apakah kampungku sudah banyak perubahan? Tambah maju kah? Semoga lebih maju dari satu tahun sebelumnya, harapku. Bus yang berjalanan dikegelapan, jarang ditemui lampu-lampu atau sumber cahaya karena dipulau ini masih dominan oleh hutan. Sumbawa memang pulau yang gersang dan panas, banyak sabana disana. Tapi itu yang menjadi ciri khasnya.
Pulau sumbawa adalah daratan keempat dan terkahir. Rangkaian ekspedisi ini akan berakhir segera. Memori-memori tentang daerah-daerah yang sempat kulewati sebelumnya masih tertanam dipikiranku. Entah mengapa aku rindu ingin melihatnya lagi. Tapi kerinduan itu terobati setelah aku kembali dari liburan untuk merantau lagi ke Jakarta, tentunya dengan memaki bus lagi. Karena perjalanan yang ditempuh masih 8 jam lagi, aku memilih untuk tidur. Tidak ada lagi pemandangan yang dilihat selain hutan-hutan yang gelap.
...
8 jam berlalu, bus sudah melewati perbatasi kabupaten Sumbawa dan kabupaten Dompu, tanah kelahiranku. Kini saatnya bersiap-siap dan mengemas barang-barang. Satu persatu penumpang yang ada di bus itu turun karena sudah sampai pada tujuannya. Dan tiba saatnya aku turun dari bus, ayahku sudah berada di persimpangan jalan untuk menjemputku karena rumah kami tidak dilewati oleh bus tadi. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menghirup udara segar ala kampungku.
Sekarang perjalananku sudah berakhir. Senang rasanya sudah punya pengalaman yang luar biasa yang bisa kuceritakan pada orang-orang nantinya. Semoga perjalanan saat kembali ke Jakarta nanti lebih seru dari perjalanan kali ini.
Malam itu sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Bus yang kutumpangi tadi terus melaju sampai pemberhentiannya yang terakhir. Lalu terdengar samar-samar suara tabuh gendang dari pemuda-pemuda yang membangunkan sahur. Orang-orangpun sudah berkeliaran untuk mencari menu sahurnya, sedangkan kami berdua segera menaiki sepeda motor meninggalkan persimpangan itu.

~~~SELESAI~~~

Saturday, 12 April 2014

Ekspedisi 5 Provinsi, 4 Daratan & 3 Lautan (Bagian II)

Kalau mau tahu ceritanya dari awal, baca dulu Bagian I..
  

Terdapat perbedaan antara Jawa Barat dan Jawa tengah. Kalau di Jawa Barat orang-orang berbahasa sunda, sedangkan di Jawa Tengah orang-orang berbahasa Jawa. Sukulah yang membedakan bahasa mereka. Aku teringat teman-temanku di kampus, ketika aku memperhatikan mereka berbicara dengan bahasa daerah, bahasa yang dipakai oleh mereka yang dari Jawa Tengah berbeda dengan mereka yang dari Jawa Barat. Dari cara berbicaranya, orang Jawa Barat lebih kalem dan lembut dibanding orang Jawa Tengah. Tapi yang lebih menarik itu cara bicaranya orang Jawa tengah, apalagi mereka yang sangat kental dengan budaya Jawanya, biasanya ada penekanan-penekanan yang halus dalam kata-katanya, kata orang itu namanya medho’.
Bicara tentang bahasa, daerahku juga ada bahasanya sendiri yang sangat jauh berbeda dari bahasa Indonesia. Namanya “bahasa Mbojo”, kalau mau belajar bahasa ini saya sarankan anda langsung ke tempat saya saja, karena belajar bahasa ini tidak semudah seperti mencari arti kata dalam kamus. Semua kata-kata dalam bahasa ini masing-masing memiliki cara dalam penyebutannya, kalau penyebutannya tidak sesuai dengan yang biasanya, maka akan terdengar aneh. Orang-orang di daerah memang setiap harinya selalu menggunakan bahasa daerah, tak heran kalau dalam data statistik BPS menunjukkan bahwa angka melek huruf di NTB masih rendah dibanding provinsi lain. Karena itu tadi, banyak masyarakatnya yang terbiasa menggunakan bahasa daerah karena tidak bisa bahasa Indonesia, terutama penduduk usia lanjut. Ya, itulah warna-warni Indonesia, membuat Indonesia menjadi bangsa yang unik dimata dunia.
Oke, sekarang bus tengah melaju di kabupaten Brebes, kabupaten paling barat di jalur pantura di provinsi Jateng. Di Jawa tengah, bus akan berlari semalaman. Mulai dari Brebes, kemudian Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, ibukota Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan paling timur Rembang. Sayangnya aku melewatkan suasana daerah-daerah itu, karena saatnya mataku untuk terpejam dan tidur.
...
            Shubuhpun menjelang, ruhku kembali kedalam ragaku. Mataku langsung melotot kearah luar jendela, dengan penasaran melihat keadaan di sekitar. Tuban, adalah salah satu kabupaten yang berada diperbatasan. Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ya, sekarang sudah berganti provinsi lagi. Provinsi yang ketiga, provinsi Jawa Timur. Saat aku melewati daerah Tuban, di sepanjang jalan banyak warung-warung kecil yang berjualan. Para pemilik warung-warung itu rata-rata menawarkan dagangan yang sama.
            Jawa timur sering dijuluki sebagai tempatnya para santri. Terlihat pada slogan-slogan yang banyak tertera dipinggir-pinggir jalan yang bermakna islami, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Di Jawa Timur terdapat kota terbesar kedua di Indonesia, namanya Surabaya. Surabaya berasal dari kata “ ikan sura dan buaya” yang menjadi ikon atau simbol dari kota Surabaya sendiri. Surabaya kini seperti kota metropolitan. Banyak gedung-gedung tinggi yang sudah dan sedang dibangun. Tak kalah dengan kota Jakarta yang kini sudah sumpek dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit, perkantoran, apartemen, mal, yang bersanding dengan perumahan-perumahan padat nan kumuh serta elit.
            Bus memasuki kota Surabaya sekitar pukul 10 pagi melewati jalan tol. Jalan tol di Surabaya ini agak unik. Jalanannya ada yang melengkung membentuk bundaran. Pemandangan kota Surabaya yang dipenuhi dengan deretan perumahan dan gedung-gedung terlihat samar-samar dari atas tol yang letaknya lebih tinggi dari jalan biasa. Bus tidak berjalan ditengah-tengah kota Surabaya, padahal aku ingin sekali melihat patung ikan sura dan buaya yang menjadi ikon kota itu. Tak apa lah, semoga lain waktu bisa kesini.
...
            Bus kini berjalan di sore hari, menelusuri jalan-jalan pantura yang ada di jawa timur. Hingga sampailah disebuah daerah yang dipenuhi suara deru angin dan deburan ombak yang kencang, itulah Banyuwangi. Banyuwangi merupakan kabupaten yang letaknya paling ujung timur di pulau Jawa. Disini terdapat sebuah dermaga, yang dipenuhi lampu-lampu temaram dari kapal-kapal maupun fery yang singgah disana, namanya pelabuhan ketapang. “Ah, sebentar lagi aku akan sampai dirumah” gumamku. Tiba di dermaga, bus yang kutumpangi mengantri untuk memasuki fery. Beberapa menit kemudian, aku bersama penumpang lain segera turun dari bus dan menuju ruangan kapal.
...
            Proooooommmpp... prooooommmpp... tandanya fery mulai berangkat meniggalkan pulau Jawa, ya daratan pertama sudah ditinggali. Kini aku sedang mengarungi lautan pertama, selat Bali. Perjalanan ditempuh lebih kurang 30-45 menit. Saat itu, jam handphone sudah berubah menunjukan waktu Indonesia tengah (WITA). Bali, adalah pulau utama tujuan wisata turis mancanegara. Di Bali katanya seperti surga dunia, semua keindahan bisa kau lihat disana, memang benar Indonesia memiliki warna-warni keindahan alam yang jarang ditemukan ditempat lain di dunia ini. Bali juga kental dengan budayanya, menjadikan salah satu daya tarik bagi siapapun untuk jadi penghibur diri, pemuas kebutuhan diri manusia yang hakikatnya haus akan seni.
Bicara tentang budaya, untungnya sekarang kebudayaan bergabung dalam kementrian pendidikan. Pada zaman kekusaan gus dur adalah suatu kesalahan fatal karena memasukan kebudayaan dalam lingkup kementrian pariwisata. Alhasil, budaya seolah-olah hanya menjadi tontonan dan daya tarik pariwisata disisi lain, mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang memberi pemasukan yang banyak terhadap penghasilan negara.
Sekarang bergabungnya budaya dalam kementrian pendidikan, diharapkan agar budaya itu selain dijadikan tontonan juga dapat dilestarikan oleh generasi-generasi muda, dengan memasukannya kedalam kurikulum pendidikan. Budaya yang dilestarikan akan tetap hidup, mengingat zaman sekarang yang sudah banyak berubah serta mempengaruhi pola pikir masyarakat terutama generasi kini.
Indonesia seharusnya bangga karena memiliki warna-warni kehidupan yang unik. Tapi jangan sampai keunikan itu sendiri malah direbut oleh orang lain atau bangsa lain, kan kasihan nenek moyang yang sudah susah payah membuat tradisi-tradisi serta keunikan-keunikan tersebut.
Lanjut lagi ke perjalanan, setelah mengarungi lautan selama 40 menitan, fery pun bersandar pada sebuah pelabuhan di pulau Bali, namanya pelabuhan Gilimanuk. Daaan sampailah aku pada daratan yang kedua, jeng jeng jeng... Pulau Bali. Ya, pulau Bali adalah pulau yang luasnya tak lebih dari 5.561 km2 dengan beberapa pulau-pulau kecil disekelilingnya seperti nusa penida, nusa lembongan, dan nusa ceningan. Aku bersyukur tinggal di NTB, kalau mudik seperti ini bisa lewat Bali. Dan menurutku Kepulauan Nusa Tenggara memang indah, warna-warni keindahan alamnya begitu beragam, dari pantai-pantai di Bali dan Lombok, sabana di sumbawa, serta keindahan pulau komodo dan gunung kelimutu di NTT.
Ada sebuah cerita yang miris menurutku ketika bus pertama kali menginjak pulau Bali. Saat keluar dari wilayah pelabuhan, supir dan kernet bus menyuruh semua penumpang untuk turun dan menyiapkan sesuatu. Kamipun disuruh berjalan menuju sebuah pos yang ada segelintir oknum disana. Rupanya kami dibawa ke pos pengecekan KTP. Jadi, peraturan di Bali ini sangat ketat, setiap bus/mobil yang baru sampai dipulau Bali penumpangnya harus di cek apakah memiliki KTP atau tidak. Tentunya warga yang di cek adalah warga yang berusia 17 tahun keatas. Ketika itu umur saya sudah mencapai 17 tahun, tetapi aku juga diikutkan turun. Masalahnya, ketika aku berangkat kuliah di Jakarta setahun yang lalu, aku belum membuat KTP karena umur yang masih dibawah 17 tahun dan baru bisa pulang kampung tahun ini.
Kemudian, ketika tiba giliranku di tanya oleh petugas tersebut, aku hanya menunjukan sebuah kartu identitas lain yaitu kartu mahasiswa. Tanpa pikir panjang, petugas itu langsung menyuruhku masuk kedalam ruangan. Perasaanku deg degan, mau diapakan aku ini. Kemudian diruangan tersebut aku ditanya, “mana KTPnya?”, “belum ada pak soalnya saya kemarin pergi kuliah belum sempat buat KTP karena belum cukup umur”. “kalau gitu, supaya gak berurusan dengan saya besok, lebih baik kamu bayar biaya administrasi 20ribu”. Seketika aku tercengang mendengar bahwa aku harus membayar 20ribu. Meskipun sudah bertanya-tanya mengapa harus bayar 20ribu, tetap saja petugas-petugas itu ngotot dan akupun terpaksa membayarnya. Apa ini? Aku sudah menjelaskan alasan dengan sejujur-jujurnya, tapi malah disuruh bayar. Lantas, apakah gunanya memeriksa KTP ini?, apakah hanya modus?, apakah pihak-pihak ini sudah punya izin dari pemerintah?, buat apa administrasi? Padahal cuma gak punya KTP. Ini menjadi sebuah pertanyaan bagiku, kenapa di Indonesia harus bayar, bayar, dan bayar. Sedikit, sedikit bayar. Toilet umum bayar. Zaman sekarang banyak sekali modus pencarian uang.
Tidak hanya aku, beberapa penumpang lain juga harus membayar karena alasan yang beragam, seperti masa berlaku KTPnya sudah habis, tidak membawa KTP dan sebagainya. Tapi sudahlah, aku mestinya bersikap husnudzon. Siapa tahu uang itu memang dipakai untuk kebutuhan administrasi, tidak disalah gunakan apalagi dipakai untuk kepentingan pribadi.
           Bus kini berjalanan meninggalkan pelabuhan. Matahari kini berada di ufuk barat. Saat itu sudah malam hari, tetapi aku masih bisa melihat indahnya pulau Bali. Latar pura sering terlihat dipinggir jalan dan desain arsitektur bangunannya banyak yang mengikuti ciri khas Bali. Jalan-jalan diaspal rata dan tertata rapi, benar-benar rapi. Sepanjang jalan setelah melewati kota Denpasar, kita akan disuguhi pemandangan laut. Terkadang aku melihat sekumpulan orang-orang Bali dengan pakaian adat mereka, sepertinya sedang melaksanakan sebuah upacara adat. Oh iya, pulau Bali adalah provinsi keempat dalam ekspedisi kali ini, masih ada satu provinsi lagi yang harus ditempuh. Artinya, kampung halaman semakin dekat. 
Semakin dekat untuk bertemu ayah dan ibu.

Bersambung ke Bagian III...

Monday, 7 April 2014

Ekspedisi 5 Provinsi, 4 Daratan & 3 Lautan (Bagian I)

Oleh : Ayub Abdul Rahman

           
           Bulan Ramadhan tahun ini sudah berjalan selama 19 hari dan sekarang tibalah saatnya untuk pulang kampung atau orang-orang Indonesia biasa menyebutnya mudik, yeeeey. Maklumlah sudah 11 bulan aku meninggalkan kampung halaman demi menempuh pendidikan di STIS Jakarta. Rasa kerinduan akan suasana kampung halaman sudah lama terbesit didalam hati. Kalau saja aku menunggu sebulan lagi untuk pulang kampung, genaplah setahun aku di tanah orang ;(.
            Perjalanan ini adalah perjalanan yang sudah kunanti-nanti sejak lama. Mengapa? Karena waktu yang akan ditempuh dalam perjalanan kali ini sangat lama yaitu 3 hari 3 malam. Kalau misalnya ada orang bertanya, Kok perjalanan yang lama gitu malah di nanti-nanti?. Sejujurnya aku adalah orang yang sangat menyukai perjalanan. Tak masalah seberapa jauhnya perjalanan itu, kuat atau tidaknya aku dalam menempuh perjalalanan itu ataupun kondisi transportasi yang menemani perjalananku. Semua itu dibawa senang saja dan yang penting selamat sampai tujuan, karena di perjalanan kita dapat melihat banyak hal yang jarang ataupun yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Hakikat perjalanan menurutku adalah suatu kondisi yang tepat untuk merefresh kembali pikiran kita dengan melihat keluar dan menikmati apa yang diciptakan Tuhan yang ada di bumi kita. Maka dari itu, daripada membeli tiket pesawat yang harganya lebih mahal meskipun dalam sekedip mata langsung sampai ketujuan, aku lebih memilih menggunakan Bus untuk pulang ke kampung halaman kali ini yang akan memakan waktu 3 hari 3 malam karena jarak yang ditempuh beribu-ribu kilometer. Anda lihat sendiri di peta, kira-kirakan saja berapa kilometer jarak dari Jakarta ke Nusa Tenggara Barat paling timurnya, tak jauh dari pulau Komodo, pulau yang kini menarik minat banyak wisatawan untuk berkunjung, baik dari luar negeri maupun domestik. Wajarlah kini pulau komodo ramai dikunjungi karena ia sudah dinobatkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Perjalanan kali ini sudah kupersiapkan selama seminggu terakhir, ada hal yang unik dalam setiap perjalanan ketika hendak ke kampungku. Aku akan melewati 5 Provinsi, 4 Daratan, dan 3 Lautan sehingga jadilah perjalanan kali ini aku sebut dengan “Ekspedisi 5 Provinsi, 4 Daratan, dan 3 Lautan!”
            Perjalananku dimulai pada tanggal 28 juli 2013 dengan memakai Bus Malam cepat yang sebelumnya telah ku pesan 1 tiket kursi senilai Rp. 700.000 *mahal kaan, gara2 BBM naik nih. Semua penumpang awalnya berkumpul di terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur dan sekitar pukul 1 siang bus pun mulai berangkat dengan mantap. Beberapa menit berlalu, bus sudah berjalan membelah kota Jakarta melewati jalan tol, lumayanlah untuk melihat-lihat sudut-sudut Jakarta. Selama bus berjalan, mataku selalu terpaku melihat kejendela kaca tertutup yang ada disamping kursi dudukku. Aku sengaja memesan kursi dekat jendela agar setiap saat bisa melihat keluar.
            Sudah sejam lamanya dan kota Jakarta telah ditinggalkan oleh bus yang aku tumpangi ini. Masih didalam tol, tidak ada pemandangan menarik yang kulihat, monoton dan membosankan. Lebih baik aku baca buku saja, lalu kuambil sebuah novel islami karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, judulnya “99 Cahaya di langit Eropa”. Mungkin ada yang sudah baca bukunya, bukunya sangat bagus. Buku itu ditulis berdasarkan kisah nyata dari penulisnya sendiri tentang suatu perjalanan dalam menjelajahi tempat-tempat di Eropa yang memiliki sejarah peradaban islam, bagaimana islam dulu menyebar ke benua eropa dan sisa-sisa kejayaan islam yang masih tersisa sampai saat ini. Ya, kita sekarang tahu bahwa orang-orang Eropa sekarang adalah mayoritas beragama Kristen protestan, khatolik atau atheis, sehingga orang muslim disana menjadi minoritas yang katanya jika ingin melakukan ibadah sangat sulit dan banyak halangannya. Saat membaca buku itu, mataku semakin lama semakin lelah dan pandanganku samar-samar hingga rentetan kalimat yang ada di buku itu sudah tak jelas dibaca lagi dan akupun tertidur.
...
            Piiipp… piiipp… bunyi klakson bus membangunkanku dari tidur, kulihat hp dan waktu telah menunjukan pukul 3. Sekejap lalu kulihat keluar jendela, terpampang tulisan “cikampek” disebuah papan di pinggir jalan. Oh iya, aku belum menceritakan tentang Ekspedisiku kali ini. Jadi selama 3 hari 3 malam itu, bus akan membawaku dan penumpang lainnya melewati 5 provinsi diantaranya yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Kemudian kami akan berjalan diatas 4 daratan yang disebut pulau yaitu pulau Jawa, pulau Bali, pulau Lombok, dan pulau Sumbawa. Dan pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh 3 lautan yang disebut dengan selat, yaitu selat Bali, selat Lombok, dan selat Alas. Dan sekarang bus inipun tengah melaju di Provinsi Jawa Barat, masih dalam pulau Jawa.
            Hmmmp… toko-toko disepanjang jalan itu begitu membuat lidahku menahan terus air liur yang serasa ingin keluar. Manisan-manisan berwarna-warni yang dipajang di toples ukuran besar itu seakan mengundang orang untuk mencicipinya, seakan mereka berkata, ”saya enak loh…maka belilah saya”, tapi aku masih dibawah kesadaran, bahwa aku sedang menjalankan ibadah puasa. Meskipun sudah jelas-jelas diterangkan dalam islam bahwa orang yang sedang dalam perjalanan atau menempuh jarak jauh diperbolehkan untuk tidak berpuasa, tetapi wajib menggantinya di hari lain.
Namun, berpuasa di saat seperti ini banyak sekali godaannya, para sopir dan kernet bus tidak ada yang berpuasa padahal aku tahu bahwa mereka juga muslim. Begitu juga dengan sebagian besar penumpangnya, tidak masalah bagiku jika mereka sedang makan, tapi di tempat tertutup seperti ini ada saja yang merokok, yang sangat mengganggu kenyamanan penumpang lain. Padahal sejatinya peraturan mengenai tidak boleh merokok di kendaraan umum sudah ada, namun para sopir atau kernet satupun tak ada yang menegur dan dibiarkan saja.
Hal ini juga mengingatkanku sewaktu naik angkot di Jakarta, sopir angkot itu tengah merokok sambil memegang setir lalu seorang bapak tua yang duduk disebelahnya berkata, “gak puasa?”, lalu sopir menjawab, “iya, ntar gak kuat, maap ya pak asap rokoknya”, tentu orang-orang menyadari bahwa menjadi sopir angkot butuh tenaga, tapi ini masalah iman kita juga. Apakah iman kita ini tahan jika diuji dengan suatu ibadah kepada Allah swt yang hanya dilakukan sebulan dalam setahun?, belum tentu tahun depan kita dapat menikmatinya lagi. Ya begitulah, perjalanan kali ini bukan sekedar perjalanan biasa.
Waktu menunjukan pukul 4 kurang 15 menit, roda bus membelok dari jalanan kesebuah rumah makan. Kernet bus memberi instruksi kepada penumpang untuk turun. Satu per satu penumpangpun turun, dibawah pintu bus sudah berdiri kernet yang akan membagikan kupon makan. Aku membaca plang nama rumah makan, daerah ini namanya Subang. Ternyata Subang yang ada di peta itu begini toh, dan sekarang aku menginjakan kakiku di tanah Subang, ada rasa senang melintas dalam pikiranku. Aku kemudian bergegas, berharap menemukan sebuah masjid atau mushola untuk sholat. “Ah, itu dia..” sahutku, lalu segera aku mengambil air wudhu’ dan menjamakkan sholat asharku dengan sholat dzuhur yang belum sempat kutunaikan tadi karena takut ketinggalan bus.
Selesai sholat langsung menuju rumah makan, tapi berhubung puasa makanannya ku bungkus saja untuk buka puasa nanti. Beberapa saat kemudian, sopir bus membunyikan klakson tanda bus akan segera berangkat.
Suara adzan maghrib terdengar samar-samar dari dalam bus, pertanda waktu berbuka telah tiba. “Allahuma laka sumtu, wabika aamantu, wa’ala rizkika afthartu, birahmatika yaa arhamarraahimiin”, begitulah do’a berbuka puasa yang senantiasa diucapkan setiap muslim ketika hendak merasakan nikmatnya makanan setelah seharian menahan lapar dan haus. Aku segera membuka bungkus nasi dari rumah makan tadi. Dari luar jendela juga terlihat sekumpulan bapak-bapak yang tengah berkumpul di pelataran masjid sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Memang enak tinggal di Indonesia, kalau mau berbuka puasa yang gratis tinggal datang saja ke masjid. Begitu banyak orang yang dermawan dengan memberikan sebagian hartanya untuk memberi makan orang yang berpuasa. Tentulah yang demikian itu merupakan sebuah amalan yang baik di bulan ramadhan.
Bus pun terus melaju, matahari kini berganti menjadi bulan dan bintang sebagai pengawal-pengawalnya. Bulan saat itu mulai mengecil dari keadaannya yang bulat sempurna beberapa hari yang lalu, tapi masih sanggup memantulkan cahaya matahari. Disini bulan dapat dengan bebas memamerkan cahayanya, tidak seperti di Jakarta, cahayanya kalah bersaing dengan polusi dan gas-gas yang mengendap di udara.
Malam semakin larut, bus akhirnya melewati perbatasan provinsi. Kali ini aku berada di provinsi yang kedua, provinsi Jawa Tengah!. 

Bersambung ke Bagian II .....



Wednesday, 2 October 2013

Catatan Perjalanan Gunung Ciremai (3056 mdpl)


“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. Ar-radu: 3

“Kamipun terus berjalan, menapak bebatuan –bebatuan itu. Rasa lelah kian membara, tetapi semangat tak pernah padam, semangatlah yang menjadi penggerak dalam setiap langkah kaki kami.”

Pada tanggal 18 September 2013, saya bersama ke enam orang lainnya berencana untuk mendaki gunung Ciremai yang terletak di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Pendakian kami kali ini merupakan bagian dari kegiatan dari organisasi pecinta alam di kampusku, GPA Cheby. XPDC 7 Summits namanya, dan kami adalah tim ciremai. Pukul 07.00 pagi kami berkumpul di basecamp untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dan pukul 09.15 kamipun mulai berangkat menuju shelter busway terdekat yaitu shelter gelanggang remaja.
Inilah kami TIM CIREMAI...^^
                           (dari kanan ke kiri : Ka’ Rifa, Ratri, Ka’ Sili, Abi, Ega, Saya, dan Ka’ Sein)
Dari shelter busway, kami membayar tiket sebesar Rp. 3500 menuju terminal kampung Rambutan. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Setelah tiba di terminal kampung rambutan, kami segera bergegas mencari bus yang menuju ke Kuningan, baru sebentar berjalan eh busnya ketemu. Nama busnya “Widuri Sejati” hahah entah apa dasarnya diambil nama seperti itu oleh pemilik busnya. Tas-tas kami diletakkan di bagasi dan kamipun naik kedalam bus. Untuk menuju ke Kuningan, sang kernet mematok harga sebesar Rp. 50ribu /orang.
Perjalananpun dimulai dengan bus yang berjalan lamban dan seringkali berhenti, ditambah lagi suasana jalananan sekitar kampung rambutan yang padat dengan kendaraan, udara panas Jakarta menambah penderitaan kami. Penderitaaan kami belum berakhir sampai disitu, disepanjang jalan pantura yang bus lewati banyak sekali pedagang yang mengambil kesempatan untuk berjualan didalam bus. Ditambah lagi pengamen jalanan yang tak henti-hentinya memetikkan gitar dan berkata didepan mic yang terkadang mengganggu orang-orang yang ada didalam bus itu. Sebagian dari mereka tidak hanya mengamen, tapi juga memalak. Ya, ada dari mereka yang meminta-minta uang tetapi dengan sedikit paksaan, bahkan secara blak-blakan memaksa.      
Ada pula sekelompok pemuda yang ngakunya anak jalanan tapi tampangnya sudah kayak bapak-bapak. Masa’ tubuh sebesar itu dibilang anak jalanan??, dan apa yang mereka lakukan didalam bus??, mengamen?, jualan?, Tidak!!! Mereka hanya kumpulan orang-orang yang pandai berkata-kata, kalau menurut saya mereka berbakat menjadi seorang penyair atau pemain teater, “bapak ibu, kami adalah anak jalanan yang tidak bermaksud untuk mencuri, coba bayangkan jika anda seperti kami dan bla bla bla....” , tapi ujung-ujungnya mereka tinggal menyodorkan tangan dan meminta-minta, saya gak mau keluarkan uang hanya buat mereka yang gak berusaha, akhirnya saya dipaksa buat ngasih uang, dan tetap saya gak mau ngasih dan merekapun marah.   
Ya begitulah di Indonesia, penuh dengan sensasi kehidupan. Sejatinya, meskipun kita miskin, kita gak punya uang, kita hidup melarat. Tapi jangan sampai jadi orang yang meminta-minta, jangan sampai jadi preman yang kerjaannya nganggur dan hanya bisa malakkin orang lain, jangan sampai usia kita yang seharusnya siap fisik untuk bekerja, malah tidak dimanfaatkan untuk mencari nafkah yang lebih baik dan halal. Ingatlah bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.
Oke, kembali ke perjalanan. Perjalanan ditempuh kurang lebih 7 jam dari Jakarta. Ketika kami bilang ke kernet bus kalau kami mau naik gunung ciremai, kami disarankan untuk turun di cigugur. Oh iya, rencananya kami akan naik melewati jalur palutungan, karena di gunung ciremai ada 3 jalur pendakian umum yaitu Apuy, Linggarjati dan Palutungan. Jalur Palutungan adalah jalur yang paling lama waktu tempuhnya, tetapi track perjalanannya lebih mudah dibanding kedua jalur yang lain. Sekitar pukul 5 sore, Kami sampai di Kuningan tetapi bukan di kotanya, melainkan dikecamatan Cigugur. Turun dari bus, untungnya kami menemukan POM Bensin didekat perempatan dan kami langsung mencari masjid disana untuk sholat jamak dhuhur dan ashar serta melepas lelah. Saat kami berjalan kesana, seorang supir angkot dengan angkotnya mengikuti kami dan beliau pasti sudah tahu dengan tas bawaan kami bahwa kami mau naik gunung, lalu beliau menawarkan angkotnya untuk kami bertujuh menuju pos pendakian. Beliau rupanya agak memaksa dan kamipun akhirnya ikut saja. Setelah selesai sholat, kami naik angkot dengan kesepakatan bayaran sebesar Rp. 110ribu untuk kami bertujuh. Sebenarnya itu mahal, tapi gak apa-apalah, yang penting ke gunung ciremai^^.
Angkot tersebut berjalan membelah daratan kuningan yang menawarkan hawa sejuk nan dingin, kami dibawa naik turun bukit ditemani dengan pemandangan sang fajar yang mulai terbenam. Beberapa waktu kemudian, sampailah kami disebuah desa yang bernama Cisantana. Kami makan dulu disebuah warung warga, dan melakukan pelaporan disebuah kantor pos resort cigugur. Setelah itu, kami menuju kesebuah masjid untuk menunaikan sholat maghrib dan isya’.
Perjalanan kami dimulai pukul pada pukul 19.48 malam hari dari masjid di desa itu. Desa cisantana merupakan desa terakhir sebelum memasuki area gunung ciremai jika melewati jalur palutungan. Beberapa menit kemudian, kami melewati kandang ternak warga, dan perkebunan warga desa. Dan sebelum masuk area hutan, terdapat sebuah pondok untuk beristirahat. Perjalanan kami malam itu untuk menuju ke Pos 1 yang ditempuh selama 3 jam, itupun bisa kurang karena kami sempat kesasar karena salah memilih jalan. Jadi untuk anda yang ingin ke ciremai, ketika hendak menuju pos 1, jika bertemu 2 jalan yang satunya menanjak dan yang satu lagi datar pilihlah jalan yang menanjak dan berbatu jangan pilih yang datar karena jalannya akan menurun nantinya.
Pukul 22.45, kamipun sampai di pos 1, Pos Cigowong dengan ketinggian 1450 mdpl & puncak 5,6 km. Di pos ini kami mendirikan tenda untuk bermalam. Fasilitas yang tersedia dipos ini yaitu adanya pondok yang bisa digunakan untuk beristirahat, tetapi pondoknya tidak memiliki dinding di kiri kanannya sehingga jika ingin tidur, dirikanlah tenda agar ridak kedinginan. Ada WC sekitar 5-6 buah dalam satu bangunan tetapi kondisinya sangat kotor dan dipenuhi dengan coretan-coretan. Di pos 1 ini adalah satu-satunya tempat dimana kita dapat menemukan sungai, selebihnya untuk pos-pos selanjutnya tidak ada sumber air sehingga, disarankan untuk mengambil air terlebih dahulu untuk meperluan memasak atau minum diatas sebelum melanjutkan perjalanan.


Kemudian paginya kami sarapan dan melanjutkan perjalanan sekitar jam setengah 9 pagi. Perjalanan menuju pos 2 begitu melelahkan, karena track yang terus menanjak. Sering-seringlah beristirahat ditempat yang agak lapang, tetapi jangan terlalu lama. Sebelum mencapai pos 2, kami melewati pos bayangan yaitu pos kuta, luasnya masih cukup untuk menampung sekitar 2-3 tenda. Lalu, perjalanan kami lanjutkan, seteleh berjalan beberapa lama akhirnya kami sampai di pos 2. Pos 2 bernama Pangguyangan Badak dengan ketinggian 1800 mdpl & puncak 4,5 km. Di pos 2 tidak ada apa-apa, hanya lahan kosong.
Lalu kami melanjutkan perjalanan, track berbatu dan terus menanjak serta tak jarang ada pohon tumbang yang menghalangi jalan. Setelah berjalan sekitar 1 jam, akhirnya kami sampai dipos 3 pada pukul 10.13, Pos Arban dengan ketinggian 2050 mdpl & puncak 3,6 km. Sama seperti sebelumnya, hanya merupakan lahan kosong, kami meninggalkan dan menyembunyikan 2 botol air disini untuk persediaan ketika turun nanti (*semoga gak diambil orang, hehe).

pos 2 & 3










Setelah itu perjalanan dilanjutkan, jalanan terus menanjak (*hampir frustasi gara-gara jalanannya yang menanjak terus -_-“). Kami beberapa kali berhenti berjalan untuk beristirahat sejenak. Pukul 10.50 kami tiba di Tanjakan Asoy, Pos ke 4 dengan ketinggian 2200 mdpl & puncak 2,9 km. Kami istirahat sejenak sambil berfoto ria dengan pohon besar yang telah tumbang, tak lupa juga kami menyembunyikan 1 botol air untuk persedian turun (*ssstt!!). Mengapa dinamakan Tanjakan Asoy??, mungkin karena track yang akan dilalui setelah pos ini sangat terjal, iya, memang tanjakannya lebih menantang dari tanjakan-tanjakan sebelumnya, kami lebih cepat lelah dan ngos-ngosan. 
Pos selanjutnya yaitu Pos Pasanggrahan atau pos ke 5 dengan ketinggian 2450 mdpl & puncak 1,6 km. Kami sampai disini sekitar pukul 12.36. disini juga kami tinggalkan 1 botol air. Dari pos ini, puncak ciremai sudah kelihatan.
Kemudian kami berjalan lagi untuk menuju ke pos berikutnya yaitu pos 6. Sekitar jam 2 siang, kami sampai di Pos yang bernama Sanghyang Ropoh ini. Di pos ini, tempatnya lebih kecil dari pos-pos sebelumnya. Kami tidak menyimpan air disini. Vegetasi hutan mulai terbuka. Puncak ciremai semakin jelas kelihatan. 
 


Selanjutnya perjalanan berlanjut. Vegetasi pohon-pohon yang tinggi berganti menjadi semak belukar. Disepanjang jalan kita dapat menemukan bunga edelweis, saat kami kesana bunga edelweisnya sedang mekar sehingga menjadi pemandangan yang indah. Kadang disisisi jalan, kami bertemu dengan hamparan padang edelweis dimana semua bunganya yang berwarna kuning, mekar. Namun, ketika jalan disini harus berhati-hati karena jalanan sudah berbatu dan sempit. Terkadang kita temui jalan yang membentuk lorong sehingga harus hati-hati ketika melewatinya. Di tambah lagi debu-debu yang dapat mengganggu pernapasan, bagi anda yang tidak suka hal ini sebaiknya menyiapkan masker penutup mulut sebelum perjalanan.
gini nih tanjakannya,,,


Rasa frustasi semakin menjalar kedalam pikiran saya, tanjakan demi tanjakan telah dilewati namun belum nampak ada pos. Sampai ketika, saya yang selalu berjalan di bagian belakang menyusul kedepan, berharap pos selanjutnya ada didepan mata. Tetapi, yang terpampang bukan tulisan pos, tapi pertemuan dua jalur pendakian yaitu apuy dan palutungan. Jalur Apuy adalah jalur yang awalnya dimulai dari kabupaten Majalengka. 


Kamipun terus berjalan, menapak bebatuan –bebatuan itu. Rasa lelah kian membara, tetapi semangat tak pernah padam, semangatlah yang menjadi penggerak dalam setiap langkah kaki kami. Hingga akhirnya frustasi menjalar dari pikiran keseluruh tubuhku. Kakiku kram, ketika hendak menginjak batu yang sangat tinggi, mungkin salah urat kali ya. Rasanya dari pangkal paha bagian atas sampai telapak kaki kanan saya seakan mati suri, tidak bisa digerakkan dan ditekuk. Saat itu terbersit kata menyerah dalam pikiran. Untung saja ada ega, yang tak jauh dibelakangku membantu memijat sehingga terasa lebih baik. Saat itu, temanku yang lain masih jauh dibawah, sehingga kami berdua tidur-tiduran di tanah sambil menunggu yang lain sampai diatas.
Kemudian beberapa saat ka’sein mendahului kami dan berjalan beberapa meter keatas, kemudian dia berteriak, “Goa waleeet!!..” , kami semua yang ada dibawah kegirangan dan dengan semangat langsung menapaki batu-batu yang bersusun itu sampai kesebuah tanah lapang yang luas. Itulah Goa Walet, pos ke 7, pos terakhir sebelum mencapai puncak. Akhirnya kami dapat beristirahat sejenak, meskipun kami belum mendirikan tenda. Kami tiba sekitar pukul 4 sore. Setelah melepas lelah, segera kami dirikan 2 tenda dan sholat jamak dhuhur dan ashar. Sembari menunggu hingga malam tiba, kamipun berfoto-foto sambil menikmati pemandangan matahari yang terbenam di ufuk barat.
kami saat menikmati sunset di goa walet,,



 





Diatas sana, garis horizon terlihat sangat jelas. Awan-awan kini berada dibawah kami, daratan ini serasa seperti pulau. Pulau diatas awan. Tapi, kami masih punya satu tujuan lagi, yaitu menuju puncak, puncak ciremaaaiii yeeey. Malampun tiba, kami makan malam dan beranjak tidur karena suasana diluar cukup menembus kulit & daging. Besok pagi kami bangun untuk sholat shubuh, ega dan abi menuju ke puncak duluan untuk mengejar sunrise di puncak sedangkan saya dan lainnya memilih untuk menikmati secangkir kopi dan energen panas disekitar goa walet. Lalu sekitar pukul 5.30 kami menyusul kesana. Perjalanan ke puncak tidak sampai 30 menit, barang-barang kami tinggal ditenda, hanya membawa sebotol air dan beberapa snack. Dan Ketika hendak menaiki puncak, saya tak sengaja melihat sajak-sajak yang terdapat dibalik sebuah pohon, isinya :

Aku rindu berdiri di ketinggian
Menunggu surya yang malu-malu
Mengintip dari balik awan
Menemani kabut
Menyongsong pagi
Bersandar pada tebing keabadian

Inilah kami ketika di puncak,,,




Pada hari itu juga, kamipun turun kembali ke desa cisantana dengan jumlah anggota yang tetap dan selamat, dan kembali ke Jakarta dengan menumpang bus jurusan Kuningan-Jakarta.

Ringkasan pendakian :
Pom Bensin –Perkampungan (pos palutungan) : 15 menit, 1100 mdpl
Perkampungan - Pos 1 (Cigowong) : 3 jam, 1450 mdpl, puncak 5,6 km
Pos 1 – Pos 2 (Pangguyangan Badak) : 1,5 jam, 1800 mdpl, puncak 4,5 km
Pos 2- Pos 3 (Arban) : 45 menit, 2050 mdpl, puncak 3,6 km
Pos 3 – Pos 4 (Tanjakan Asoy) : 40 menit, 2200 mdpl, puncak 2,9 km
Pos 4 – Pos 5 (Pasanggrahan) : 1 jam 45 menit, 2450 mdpl, puncak 1,6 km
Pos 5 – Pos 6 (Sanghyang Ropoh) : 1 jam 30 menit, 2650 mdpl, puncak 1,1 km
Pos 6 – Pos 7 (Goa Walet) : 2 jam, 2950 mdpl, puncak 0,3 km
Pos 7 – Puncak (Sunan Talaga) : 30 menit, 3056 mdpl
*perjalanan naik : 11 jam, turun : 5 jam (naik-turun : via palutungan)

Rincian biaya :
Tiket Busway (Gelanggang remaja-Kampung Rambutan) : Rp. 3.500/orang
Bus jurusan Jakarta-Kuningan PP : Rp. 50.000x2 = Rp. 100.000/orang
Carter angkot ke desa cisantana (pergi) : Rp. 15.000/orang
Carter angkot ke desa cisantana (pulang) : Rp. 10.000/orang
Angkot M06 : kampung rambutan-bidaracina : Rp. 5.000/orang
Total : Rp. 133.500

*tips :
-jika perjalanan dimulai dari Jakarta pada siang hari siapkan uang receh untuk para pengamen (dan pemalak -,-‘)
-mintalah kernet bus untuk turun di tempat yang paling dekat dengan desa cisantana seperti perempatan dekat pom bensin
-carter angkot biasanya 10ribu, (yang 15ribu karena kepaksa yah --“)
-di dekat pos pelaporan, ada warung yang menyediakan mie rebus dan warung mie ayam (mantap nih, yang ini kudu cobain hehe) sebagai tempat untuk mengisi perut sebelum memulai perjalanan
-jika berjalan dimalam hari, lihat sekitar karena di ciremai minim dengan petunjuk jalan.
-ketika menuju pos 1, hindari jalan yang semakin lama semakin menurun, jika terlanjur, segera berbalik arah karena anda telah kesasar (^,”)
-persiapkan mental dan fisik ketika berjalan menuju pos goa walet karena akan sangat menguras tenaga dan batin (#_#)
-yang terpenting manajemen air yang baik karena sedikitnya sumber air. (^_*)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More